April 18th, 2007 by rhoeodiscolor
Sekali tercebur, susah bagiku untuk ‘mendarat’. Maklum, aku kan ga bisa ‘berenang’, karenanya agar tidak tenggelam aku hanya berani ‘nyemplung’ di tempat yang dangkal. Kalau pun aku berani ambil resiko ke tempat yang lebih dalam, aku hanya mengandalkan kebaikan atau belas kasihan dari orang-orang di sekelilingku. Kalau aku pikir-pikir, aku merasa beruntung memiliki mereka - teman-teman yang menjaga aku agar tidak tenggelam sekaligus memberi aku kesempatan untuk merasakan sensasi kedalaman yang berbeda. Tapi sebenarnya yang kubutuhkan bukan hanya teman yang sanggup memegangi aku melewati kedalaman agar aku tak tenggelam…..tapi aku butuh diajari cara berenang.
Sayangnya, orang di sekelilingku-temanku- belum mempunyai kemampuan untuk itu. Mereka hanya bisa sekadar memegangi dan menjaga agar aku tak tenggelam saja. Entahlah……aku nggak tahu apakah mereka yang nggak berusaha ngajarin aku. Mungkin juga mereka sudah bisa mengukur kemampuanku yang nggak akan sanggup diajari berenang. Karena untuk belajar berenang tidak hanya dibutuhkan effort, tapi juga keistiqomahan. Aku termasuk orang yang gampang bersemangat, tapi juga gampang kehabisan semangat, karena aku nggak telaten menjaga semangat itu tetap ada. Di sisi lain, aku merasa nyaman dengan temanku sekarang. Aku sudah merasa cukup dan aku masih malas untuk membuka kanal baru
Posted in Uncategorized | No Comments »
April 18th, 2007 by rhoeodiscolor
Adakalanya kita di buat bingung dengan banyaknya pintu di depan kita. Manakah pintu yang akan membawa ke tempat tujuan kita. Tapi, ini yang lebih sering terjadi padaku: aku mendapati semua pintu seakan-akan tertutup sehingga menjadi mustahillah perjalananku karena terpaksa harus terhenti.
Posted in Uncategorized | No Comments »
April 18th, 2007 by rhoeodiscolor
Gunung akan terlihat ’megah’ saat kita melihatnya dari jauh. Kata orang bijak, kita hanya bisa melihat dengan objektif sesuatu jika kita ada di luarnya, atau kita hanya bisa melihat dengan utuh sesuatu jika kita mundur sejenak untuk mengambil jarak dengan sesuatu itu. Analogi yang paling mudah adalah gambaran tentang gunung tadi. Kita hanya bisa mensifati gunung itu tinggi megah karena kita melihatnya dari jauh, kita bisa mensifati gunung itu hijau karena dari luar sejauh mata memandang adalah gugusan pohon-pohon yang membentuk hutan.
Namun, saat kita hanya melihatnya dari jauh, kita tidak akan mungkin bisa tahu apalagi merasakan apa yang terjadi di gunung itu, bagaimana nuansa didalamnya. Orang tidak bisa merasakan sejuknya hawa di pegunungan, mendengar dan menyentuh mata air, lelahnya mendaki, dan sensasi yang dirasakan karena keberadaan kabut hanya dari sekadar melihat atau membayangkan.
Karenanya, jadi bagian ’luar’ itu perlu hanya untuk mengamati, tapi tidak akan pernah bisa merasakan sesuatu yang terjadi di dalamnya. Hanya dengan menjadi pelaku yang ikut terlibat jauh lebih bisa merasakan nuansa yang ada dalam sebuah komunitas. Karenanya perjuangan bukanlah hal yang hanya sekadar untuk di amati, tapi juga didukung dengan segenap daya dengan memaksimalkan usaha, baik itu waktu, materi, dan juga moriil. Selamat berjuang buat semuanya. Sesungguhnya pertolongan Allah adalah dekat.
Posted in Uncategorized | 2 Comments »
April 18th, 2007 by rhoeodiscolor
Kehidupan pernikahan itu katanya seperti sepasang nelayan yang mengarungi samudera dengan biduk yang kecil.
Biduk yang kecil itu bukan berarti ga kokoh loh, karena kekoh-tidaknya biduk itu bukan karena besar-kecilnya…tp karena hal-hal lain, seperti bagaimana mengeratkan papan-papan kayunya agar tak memungkinkan air ’menyusup’ dan menenggelamkan biduk saat berjalan….bagaimana mengatur bentuk perahu semirip denagn ’streamline’ supaya bisa ’ngeblend’ dengan kehidupan gelombang laut J
Bagaimanapun….dari jauh lautan hanya terlihat luas dan tenang. Tapi ini hanya dari jauh…jika kita dekati ternyata yang kelihatan tenang itu belum tentu tenang, karena riak-riak pun akan terlihat besar dan sanggup membuat oleng biduk jika kita melihatnya dari sangat dekat, sampai-sampai mata pelaku yang mengarunginya tak sanggup melihat riak yang di anggap sangat kecil bahkan terabaikan dari jauh.
Karenanya, sang nelayan tak boleh mengabaikan riak, sekecil apapun itu. Tanpa riak, waktu seaakan berhenti dan tak sanggup membawa biduk bergerak, sehingga sang nelayan sepertinya tak sanggup merasakan indahnya sebuah perjalanan di laut. Jadi, riak pun bisa menjadi sesuatu yang bisa menambah manis perjalanan sang nelayan.
Kata orang, semakin nyaring bunyi tong, semakin sedikit isinya….begitulah aku. Semakin banyak aku ilustrasiin kehidupan pernikahan…semakin menunjukkan sebenarnya aku hanya tahu sangat sedikit tentang pernikahan, atau bahkan ga tau sama sekali. Karenanya, kalau ada yang ga bener, harap maklum dung hehe….
Posted in Uncategorized | No Comments »
April 18th, 2007 by rhoeodiscolor
Betapa memegang bara itu berat. Penuh resiko, tangan bisa melepuh akibat merasakan panasnya. Tapi…sekali kita memutuskan untuk melepaskannya, bara itu segera terlepas, mungkin untuk selamanya dan sulit untuk di genggam lagi karena pastinya akan ada yang berusaha mendapatkan dan menggenggamnya sekalipun dengan perjuangan yang luar biasa.
Roda itu tetap akan berputar, dengan ataupun tanpa aku. Karena, masih banyak orang di luar yang rela untuk menjadi bagian untuk memutar rodanya. Kita bisa menjadi bagian dari penggerak roda itu –jadi sumbu yang menjadi pusat kendali perputaran, penyangga roda, ataupun bahkan hanya baut pengaitnya- namun kita tetap bisa merasakan kebahagiaan saat roda itu bisa menggelinding di jalanan dan akan merasa sedih bahkan menangis saat roda itu terperosok ke lumpur.
Tapi kita hanya akan bengong, mencibir, kagum, bahkan mati rasa saat kita sudah terlepas dari bagian roda itu. Bengong dan agak kagum saat roda itu bisa melaju dengan kencangnya, mungkin juga mencibir saat roda itu susah bergerak, dan bahkan mati rasa saat melihat roda itu terperosok.
Tapi sejatinya kita tetap tidak bisa ’merasa’ saat kita sudah terlepas dari bagian roda itu.
Posted in Uncategorized | No Comments »
October 6th, 2005 by rhoeodiscolor
ini adalah tulisan tanpa proses editing..
cinta…
adalah ketika kita sangat sibuk dengan segala aktivitas kita, tapi kita masih menyempatkan diri memikirkan ‘dia’
adalah hal yang selalu kita pikirkan padahal kita ingin melupakannya
adalah hal yang sangat kita benci dan kita sukai, dalam satu waktu sekaligus
cinta sangat egois
Bullshit ketika ada yang bilang mencintai berarti hanya berkorban tanpa pamrih
tapi bagaimanapun kita menuntut ‘dia’ pun berkorban untuk kita
karena bila cinta bertepuk sebelah tangan terjadi, yang ada adalah tidak bahagia
semoga aku tidak mengalaminya
tapi yang paling kejam
cinta itu unlogic
seberapapun besarnya rasio kita gunakan, kadang tetap kita tak kuasa memilih kapan dan dimana cinta itu akan berlabuh
picisan banget sih, maklum lagi melow
Posted in Uncategorized | 2 Comments »
August 7th, 2005 by rhoeodiscolor
"kata-kata bukanlah alat mengantarkan pengertian. dia bukan seperti pipa yang menyalurkan air. kata adalah pengertian itu sendiri."
kata-kata sutardji di atas sdh sangat terkenal dan saya tidak ingin mengomentarinya olebih jauh. saya hanya ingin mengatakan ‘betapa pentingnya sebuah rangkaian kata-kata…dalam hal ini retorika…akan mempengaruhi sebuah ‘arti’ atau pesan.
kita tidak bisa menyangkal bahwa retorika adalah sebuah unsur yang sangat signifikan dalam komunikasi. ada ‘rasa’ yang berbeda dari sebuah materi kuliah fisiologi misalnya, hanya karena retorika yang berbeda.
"bayangan yang ada di kepala selalu lebih utuh…daripada yang coba dibentuk oleh tangan, atau yang coba dituangkan dalam tulisan"
kalimat diataslah yang sering menjadi penghambat dalam sebuah komunikasi. seseorang ingin menyampaikan gambar lingkaran utuh…eh yang tertangkap hanyalah bentukan sabit atau bahkan mungkin jauh yang jauh dr sebuah lingkaran.
pun demikian kita-teutama saya- ketika ingin menyampaikan ide-ide yang ada dalam benak saya yang saya yakini sebagai ide cemerlang-baca mustanir, retorika adalah masalah serius bagi saya. ide ini hanyalah gombal semata bila tak tersampaikan secara luas pada kalangan luas. belajar untuk membuka mata, pendengaran dan hati adalah cara-cara yang ampuh untuk semakin memperkaya retorika.
karenanya kita tak boleh merasa cukup dengan menerima doktrin dari buku-buku usang dan perkataan dari org2 di lingkaran kita an sich, tapi harus membaca segala hal yang ada di sekitar kita-tak peduli dari mana pun asalnya, dan kemudian mengkomparasikan dengan ide yang cemerlang.
dalam bahasa kitab hal ini adalah membenturkan ide yang kita punya dengan fakta yang kemudian dengannya akan ada dorongan kuat dalam diri bahwa kita akan mengubah fakta yang rusak di sekitar kita.
Posted in Uncategorized | No Comments »
July 10th, 2005 by rhoeodiscolor
Cinta adalah ‘sejarah kehidupan’ bagi seorang perempuan, namun hanya sebuah ‘episode’ bagi seorang laki-laki
Saya mungkin termasuk orang yang tidak terlalu percaya dengan kalimat di atas
Tapi, sebagian besar teman-teman perempuan saya membenarkannya
Dan sebagian teman-teman laki-laki pun membenarkannya, walaupun sebagian menolaknya
Apapun itu kita tidak bisa menentukan garis batas yang jelas antara ‘sejarah’ dan ‘episode’.
Bukankah sejarah manusia merupakan bagian dari episode-episode kehidupan?, dimana episode itu bisa dibilang pendek atau pun panjang tergantung dari mana kita mengukurnya.
Sejarah islam di dunia ini sudah terdiri dari banyak episode. Tapi tidak semua episode diingat oleh manusia, tentu yang diingat hanyalah yang dirasa ‘mengesankan’. Karenanya mungkin episode kehidupan yang dikenal hanyalah masa kegelapan, pertengahan, kejayaan islam, dan kapitalisme. Islam yang telah 14 abad memimpin perdaban dunia tentu tidak bisa dibilang pendek. Oleh karenanya kita harus percaya bahwa kapitalis yang menggenggam dunia saat ini hanya bagian kecil dari episode sejarah-walaupun sepertinya kita sudah terlalu lama dan muak dengannya.
Pergantian episode adalah sebuah keniscayaan, namun…Kita tidak bisa hanya berdiam diri saja untuk menunggu pergantian episode ini tanpa berbuat apapun.
Tapi kita mesti mempersiapkan ‘episode’ baru untuk menggantikannya dan menjaganya berumur panjang agar sejarah yang manis kembali dirasakan oleh umat manusia
Posted in Uncategorized | 1 Comment »
July 10th, 2005 by rhoeodiscolor
Kita akan merasa dekat dengan orang-orang yang memang sedang ‘menampakkan’ diri di hadapan kita…..sekarang.
Tapi orang-orang yang sedang tidak menampakkan diri bukanlah karena dia melupakan kita, tapi bias jadi karena masalah yang dihadapinya jauh lebih dahsyat atau semata-mata karena kesibukan, serta jarak dan waktu.
Dan yakinlah, apabila kita memintanya untuk membantu kita, mereka tidak akan menolaknya, berusaha memberikan apa yang dimilkinya….segalanya…untuk meringankan beban dan menguatkan kita.
Posted in Uncategorized | No Comments »
July 10th, 2005 by rhoeodiscolor
Kemampuan verbalku terbatas
Aku tak isa persuasive pada orang
Apakah apologiku ini bisa diterima?
Untuk tidak mengeluarkan isi kepalaku
Aku hanya bias…..
Menerima signal, ide, bahkan sampah
Masuk ke dalam otakku- yang didalamnya mereka saling menyapa, berjabat tangan, ataupun bertonjokan..
Yang akhirnya akan membentuk pola pikirku
Tapi aku sulit mentransformasikan yang ada di kepala ini
Dalam bentuk perilaku
Apalagi kalau mesti menyampaikannya pada orang lain
Apakah apologiku ini bisa diterima??
Posted in Uncategorized | No Comments »